Sabtu, 31 Desember 2011

Akhir dari seorang mahasiswa fakultas hukum...........


Sebelum saya kuliah di fakultas hukum, pemaknaan saya mengenai hukum, amatlah  sempit. Hanya sebatas, “jika kita melanggar aturan, maka kita akan di hukum” jadi hukum bagi saya dulu adalah penjara.  Di fakultas hukum sendiri diajarkan secara umum “hukum adalah sekumpulan aturan yang mengatur mengenai kehidupan manusia, baik sesuatu yang dibolehkan maupun yang tidak boleh dilakukan dan jika melanggarnya akan mendapatkan sanksi” selain itu tujuan hukum menurut beberapa pakar hukum ialah kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan. Tapi menurut saya,itu hanya sebuah konteksual belaka, karena pada prakteknya, hukum merupakan sekumpulan aturan  yang dibuat oleh penguasa yang sama sekali tidak mengerti apa itu keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.   Banyak fakta mendukung hal tersebut, sebagai contoh para koruptor negeri ini. mereka telah memakan uang rakyat senilai ratusan bahkan milyaran rupiah, namun di pengadilan hanya diputus 1-3 tahun penjara bahkan dipotong remisi sehingga masa penahanan hanya sekitar 1 tahun-an. dan ini sangat berbanding terbalik dengan kasus yang baru-baru ini terjadi, seorang anak lelaki (kategori anak-anak karena dibawah 18 tahun) di Palu, diancam hukuman 5 tahun penjara hanya karena mencuri sandal seharga Rp 35.000,-, belum lagi kasus nenek Minah yang mencuri 3 buah biji kakao dan harus di tahan selama sekitar 6 bulan.
Entah dimana letak keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum yang merupakan tujuan hukum yang sering di ajarkan pada kami mahasiswa fakultas hukum.
Di awal tahun perkuliahan, saya sangat bangga menjadi mahasiswa fakultas hukum. Begitu luas dan pentingnya belajar mengenai hukum. Jiwa nasionalisme dan patriotisme saya muncul membuncah di dada. Namun, pada pertengahan tahun saya kuliah, semua hal yang telah saya pelajari kembali saya pertanyakan. Begitu banyak hal di sekeliling saya yang membuat saya kembali mempertanyakan, apa itu sebenarnya hukum? betulkah tujuan hukum adalah keadilan, kemanfaatan dan kepastian??
Saya sebagai mahasiswa fakultas hukum, hanya bisa diam. Mempelototi tayangan televisi yang tiap harinya mempertanyakan penegakan hukum di Indonesia, dan setiap harinya pula masuk di kelas untuk mempelajari, apa itu hukum menurut beberapa profesor hukum yang walaupun sebagian besar diantara mereka telah wafat tapi teorinya masih abadi diajarkan dikelas-kelas hukum.
Saya sebagai mahasiswa fakultas hukum hanya bisa diam ditengah-tengah masyarakat luas yang selalu menanyakan dimana itu keadilan. Di kelas, kami kerap berdiskusi bersama dosen mengenai penegakan hukum di Indonesia, dan diskusi kami hanya berujung pada komentar sinis mengenai hukum dan bangsa ini. Diskusi kami hanya menyindir habis-habisan penegakan hukum di Indonesia, hanya menyindir pemimpin negara ini, menyindir para penguasa negri ini. Itukah tugas kami mahasiswa fakultas hukum? mempelajari hukum, mengagung-agungkan dewi keadilan, tapi tiap hari kami hanya bisa menyindir penegakan hukum? menyindir keterbelakangan bangsa ini? menyindir pemimpin bangsa ini? tidak adakah yang bisa kami perbuat selain menyindir?
Mahasiswa hanya bisa turun di jalan dan menggelar aksi ketidaksepahaman dengan pemerintah terhadap penegakan hukum  bangsa ini. Turun di jalan atas nama rakyat, membuat kemacetan dan tak sedikit yang berakhir pada kericuhan dan anarkisme dan merusak properti negara.
Saya sempat menjadi “pemikir bangsa” ini, memikirkan apa yang saya bisa lakukan kelak sebagai mahasiswa lulusan fakultas hukum untuk, memperbaiki hukum di negri yang saya cintai ini. tapi, sebagai “pemikir bangsa”, saya berakhir dengan keputusasaan dan memutuskan untuk konsen pada diriku sendiri, lulus di fakultas hukum, mendapat pekerjaan, dan berkeluarga.
sesuatu yang ironis, bagi seorang mahasiswa fakultas hukum yang setiap harinya tanpa jenuh selalu mendengar kata keadilan.

Hanya perlu menjadi ikan salmon : berani berpindah (Novel : Manusia Setengan Salmon by Raditya Dika”


Saya salah satu penyuka novel karangan Raditya Dika. Menurut saya, novelnya sangat membantu menemukan kembali kegembiraan yang pernah hilang. Setidaknya novel-novelnya membuat saya keluar dari kubangan kegalauan.
Novelnya yang terbaru berjudul “Manusia Setengah Salmon”. Entah kenapa Raditya Dika gemar memasukan unsur hewan menjadi judul dari novelnya. Mulai dari kambing, babi, brontosaurus, marmut,salmon dll.  menurut saya, novelnya yang terbaru, tidak “menggila” jika dibandingkan dengan novelnya yang terdahulu. Mengapa? karena tidak biasanya, setelah membaca novelnya, saya menghela nafas yang panjang. Biasanya , setelah membaca novel karangan Raditya Dika, saya selalu mengusap air mata saya, bukan karena saya menangis sedih, tapi air mata saya keluar karena tertawa dengan level tertinggi.
Manusia Setengan Salmon, menurut saya novel karangan Raditya Dika yang sangat dewasa. Banyak pesan moral (moral yang benar-benar moral), yangdapat diambil dari novel ini. Bagian yang saya suka adalah  Sepotong hati di dalam kardus cokelat, Kasih Ibu Sepanjang Belanda, mencari rumah sempurna dan manusia setengah salmon. 
Satu hal yang saya dapatkan adalah, hidup itu adalah proses berpindah. Dari rahim ibu ke dunia. di dunia, kita TK pindah ke SD, pindah ke SMP, SMA, kuliah, kerja, berkeluarga, dan berpindah ke tanah. Selama proses itu, kita berpindah tempat dan berpindah suasana. Bahkan, kita harus berpindah dari hati yang satu ke hati yang lain untuk mencari sosok yang pas untuk kita dan bersamanya kita akan berpindah ke suatu tempat dan suasana yang kita inginkan bersama yaitu menikah, punya anak, punya cucu hingga maut menjemput.
Dalam proses berpindah tersebut, kita kadang menang, kadang kalah, kadang bahagia terkadang sedih, bahkan terkadang harus terhenti karena ketidakmampuan kita, layaknya ikan salmon yang hidup berpindah setiap tahunnya, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Dan di tengah perjalanan ikan salmon, banyak yang mati kelelahan dan dimangsa beruang. Namun, ikan salmon tetap berpindah apapun yang terjadi.  Seperti itu lah kita, merupakan suatu keharusan untuk berpindah, namun dalam perjalanan berpindah itu, kita harus mampu bertahan dan menyesuaikan diri.  Bahkan seseorang harus berpindah hati sampai belasan kali, hanya untuk mendapatkan seseorang  yang cocok di hatinya.

Minggu, 04 Desember 2011

Abraham Samad, akankah menjadi Sang Lopa?

Sudah sering saya bertemu dengan sosok Pak Abraham Samad, namun baru 1 kali saya bersalaman dengan beliau. Pada saat beliau menjadi juri dalam acara Kompetisi Essai dan Karya Tulis Mahasiswa Nasional 2011 Lembaga Penalaran dan Penulisan Karya Ilmiah (KERTAS NASIONAL 2011 LP2KI). Sejak pertama bertemu beliau, saya langsung tahu bahwa beliau merupakan sosok yang sederhana dan supel yang mudah melebur dengan siapa saja termasuk mahasiswa seperti saya. Pada saat beliau mencalonkan diri menjadi pimpinan KPK, saya tidak banyak berharap, mengapa? karena saya beranggapan bahwa anak dari "pulau seberang" tidak akan bisa menjadi seorang pimpinan lembaga tinggi negara yang berdiri di Jakarta. Namun saya tetap salut dengan kegigihan beliau yang tetap mencalonkan dirinya menjadi pimpinan KPK, walaupun  pada proses pemilihan tesebut banyak yang memandang sebelah mata beliau, maklum Pak Abraham kurang dikenal di nasional.

Pada tanggal 3 Desember 2011, pimpinan KPK terpilih resmi diumumkan. Saya memang tidak mengikuti proses pemilihan tersebut melalui media namun saya sangat terkejut ketika mengetahui bahwa beliau lah yang terpilih menjadi Ketua KPK jilid III. Sungguh menjadi kebanggan tersendiri bagi saya selaku orang yang berdarah bugis-makassar. Dan asumsi saya diawal yang beranggap bahwa anak "pulau seberang" tidak bisa menjadi pimpinan lembaga negara secara otomatis tersangkalkan. Pak Abrahan menang telak dalam pemilihan tersebut. Namun, tidak "keren" rasanya jika suatu keberhasilan tidak diwarnai dengan pro dan kontra. Bagi sejumlah orang yang tak mengenal sosok Pak Abraham berpendapat bahwa pemilihan ini murni karena permainan politik belaka karena DPR memilih orang tanpa memandang kemampuan yang ia miliki.  Sebagian juga berpendapat bahwa, Pak Abraham menggali lubang kuburnya sendiri karena pemilihannya pasti dengan perjanjian-perjanjian politik dengan anggota DPR, sehingga ia dapat terpilih. Pendapat positif pun datang dari orang yang sudah muak dengan sosok yang menjanjikan namun pada akhirnya mengecewakan, dan mereka menilai Pak Abraham adalah "orang baru" yang dapat membawa angin segar bagi rasa kekecewaan dari orang-orang terdahulu.

Yahh.. apapun itu saya sudah cukup tergetar saat melihat tayangan Pak Abraham Samad di Metro TV sesaat setelah beliau terpilih. Beliau mengatakan dengan keras bahwa KPK tidak akan tebang pilih, siapa pun itu, saudara sekalipun akan saya gantung jika benar melakukan korupsi. Saya terkesima sekaligus takut. Saya terkesima karena seakan melihat gambar (karena tidak pernah bertemu langsung dengan beliau) Baharuddin Lopa di telivisi itu. Baharuddin Lopa yang saya tahu dari cerita dosen-dosen saya adalah sosok pahlawan hukum di Indonesia, Putra Sulawesi yang tidak pernah takut pada apapun dan siapapun dalam hal menegakkan keadilan. Beliau adalah mantan Jaksa Agung yang terkenal berani dan sederhana. Dan, saya takut karena TAKUT Pak Abraham Samad tidak bisa menjadi Baharuddin Lopa.

Harapan semua masyarakat Indonesia sangat besar dan sekarang harapan-harapan itu ada dipundak Pak Abraham. Korupsi yang merupakan penyakit kronis bangsa harus sesegera mungkin dihilangkan, Indonesia harus segera sembuh. Dan Pak Abraham Samad dapat merupakan salah satu obat penyembuh itu.
Saya, kami, mereka sangat berharap banyak padamu Pak, jadilah obat yang dapat menyembuhkan bangsa ini dari grogotan korupsi yang kian kronis.