Saya salah satu penyuka novel karangan Raditya Dika. Menurut saya, novelnya sangat membantu menemukan kembali kegembiraan yang pernah hilang. Setidaknya novel-novelnya membuat saya keluar dari kubangan kegalauan.
Novelnya yang terbaru berjudul “Manusia Setengah Salmon”. Entah kenapa Raditya Dika gemar memasukan unsur hewan menjadi judul dari novelnya. Mulai dari kambing, babi, brontosaurus, marmut,salmon dll. menurut saya, novelnya yang terbaru, tidak “menggila” jika dibandingkan dengan novelnya yang terdahulu. Mengapa? karena tidak biasanya, setelah membaca novelnya, saya menghela nafas yang panjang. Biasanya , setelah membaca novel karangan Raditya Dika, saya selalu mengusap air mata saya, bukan karena saya menangis sedih, tapi air mata saya keluar karena tertawa dengan level tertinggi.
Manusia Setengan Salmon, menurut saya novel karangan Raditya Dika yang sangat dewasa. Banyak pesan moral (moral yang benar-benar moral), yangdapat diambil dari novel ini. Bagian yang saya suka adalah Sepotong hati di dalam kardus cokelat, Kasih Ibu Sepanjang Belanda, mencari rumah sempurna dan manusia setengah salmon.
Satu hal yang saya dapatkan adalah, hidup itu adalah proses berpindah. Dari rahim ibu ke dunia. di dunia, kita TK pindah ke SD, pindah ke SMP, SMA, kuliah, kerja, berkeluarga, dan berpindah ke tanah. Selama proses itu, kita berpindah tempat dan berpindah suasana. Bahkan, kita harus berpindah dari hati yang satu ke hati yang lain untuk mencari sosok yang pas untuk kita dan bersamanya kita akan berpindah ke suatu tempat dan suasana yang kita inginkan bersama yaitu menikah, punya anak, punya cucu hingga maut menjemput.
Dalam proses berpindah tersebut, kita kadang menang, kadang kalah, kadang bahagia terkadang sedih, bahkan terkadang harus terhenti karena ketidakmampuan kita, layaknya ikan salmon yang hidup berpindah setiap tahunnya, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Dan di tengah perjalanan ikan salmon, banyak yang mati kelelahan dan dimangsa beruang. Namun, ikan salmon tetap berpindah apapun yang terjadi. Seperti itu lah kita, merupakan suatu keharusan untuk berpindah, namun dalam perjalanan berpindah itu, kita harus mampu bertahan dan menyesuaikan diri. Bahkan seseorang harus berpindah hati sampai belasan kali, hanya untuk mendapatkan seseorang yang cocok di hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar