Beberapa bulan belakangan ini, hobby saya beralih dari membaca ke nonton film. Terutama film Korea dan Jepang. Salah satu alasan, mengapa saya ketagihan karena ceritanya yang seru dan tidak dapat ditebak endingnya. Saya tidak ingin membanding-bandingkan film korea dengan film Indonesia, karena semua pasti tahu jawabannya dan seburuk dan seporno apapun film Indonesia saya tetap menghargai produk Indonesia :)
Oke, akan menghabiskan puluhan lembar kertas jika ingin menceritakan semua film yang sudah saya tonton beberapa bulan belakangan ini, jadi saya hanya memilih satu film yang akan saya bagikan ceritanya. Judulnya “My boss My Hero”. Mengapa saya memilih film ini, ada beberapa alasan : 1. Film ini memaksaku untuk tertawa dengan cara membenamkan mulutku di bantal, mengapa? karena saya menontonnya jam 10-an malam keatas, dan seisi rumah sudah terlelap dan jika aku tertawa lepas, maka seisi rumah mungkin akan terbangun. 2. Film ini menurutku penuh dengan pesan, dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang dulu pernah saya lontarkan kepada kedua orang tuaku. 3. hmmm....film ini sangat lucu, dijamin bisa menjadi obat ampuh jika sedang marahan dengan pacar. hehhee... :)
Film serial ini bercerita tentang seorang lelaki yang merupakan pewaris geng besar di Jepang yang lazim di sebut Yakuza. Lelaki ini merupaka sosok yang kuat dan disegani oleh para anggotanya, namun, perjalanannya untuk menjadi boss ke-3 gengnya terhenti sejenak karena lelaki ini sama sekali tidak cerdas bahkan idiot, dikisahkan dia tidak mampu berpikir lebih dari 90 detik. jadi, oleh ayahnya yang merupakan boss geng, mengisyaratkannya untuk kembali ke SMA jika ingin menjadi boss geng. Permasalahannya adalah lelaki ini telah berumur 27 tahun dan sama sekali tidak tahu menghitung dan cara membacanya masih mengeja. Itu karena, lelaki ini di masa kecilnya sangat nakal, tidak pernah masuk sekolah bahkan guru-gurunya menyerah terhadap anak ini. Belum lagi, dia hidup dilingkungan geng yang sangat keras, hobby dari lelaki ini adalah berkelahi, wanita, uang dan juga puding.
singkat cerita, di sekolahnya dia berusaha keras untuk beradaptasi dan menyukseskan penyamarannya menjadi pemudia berusia 17 tahun,10 tahun lebih muda dibandingkan dengan umurnya yang sebenarnya. Penyamarannya pun sukses, walaupun diawal tidak ada murid satupun yang mau menjadi temannya. Namun, sejak dia menjadi ketua kelas, banyak murid ingin menjadi temannya. Walaupun bodoh, lelaki ini tidak pernah pantang menyerah untuk bisa lulus dari SMA dan menjadi boss ke-3 gengnya. Dan dia dapat menyatukan teman kelasnya yang dulunya sangat apatis dengan semua kegiatan sekolah, karena bagi mereka yang terpenting adalah lulus dari SMA dan lulus di universitas yang mereka inginkan.
Sang ketua kelas tentunya, selalu menginginkan kelasnya untuk turut ambil bagian dalam berbagai acara yang diadakan sekolahnya, bahkan bisa menang. namun, sangat sulit untuk menumbuhkan rasa antusiasme teman-temannya. Namun, karena kegigihannya, dia berhasil mempersatukan teman-tean kelasnya. Karena baginya, masa muda adalah masa yang dipenuhi dengan cinta, persahabtan dan belajar. jika hanya satu unsur saja yang dipenuhi maka masa muda hanya terbuang sia-sia.
Lelaki ini pada awalnya kembali ke SMA hanya karena ingin menjadi boss ke-3 gengnya, karena lulus SMA adalah persyaratan mutlak dari sang ayah. namun, seiring dengan berjalannya waktu, dia menikmati masa SMA nya, dia merasakan persahabatan, cinta, dan susahnya belajar. pada awalnya dia berpendapat bahwa, sekolah hanyalah omong kosong, karena dia bisa menjadi kaya seperti sekarang tanpa harus mempelajari, matematika, fisika, biologi, sastra jepang dsb. Dikehidupan nyata semua pelajaran yang kita pelajari di SMA sama sekali tidak berguna, buktinya dia bisa mendapatkan uang hanya dengan berjudi dan berkelahi tanpa harus mengetahui semua teori fisika. Namun, kemudian dia tersadar, bahwa semua pelajaran SMA memang tidak berguna di kehidupan sebenarnya namun proses SMA itulah yang merupakan bekal untuk bertahan di kehidupan nyata. Susahnya menjadi ketua kelas, yang harus mempersatukan kelas, menjadikan 27 orang menjadi 1 orang, membuat semua temannya tidak bersikap apatis dan yang paling penting adalah proses kita belajar untuk menghadapi ujian. Yang terpenting adalah, masa SMA adalah masa muda yang dipenuhi dengan cinta, persahabatan dan belajar.
Seperti yang saya katakan diawal, film ini mampu menjawab pertanyaan saya mengenai, apa pentingnya kita belajar biologi, fisika, matematika jika pada akhirnya saya lulus di fakultas hukum. yang sama sekali tidak pernah mengungkit pelajaran tersebut? apakah masa SMA ku sia-sia karena toh pada akhirnya saya mengambil fakultas yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran-pelajaran SMA. Awalnya jawabanku iya, semua sia-sia. fisika merupakan pelajaran yang amat saya benci, dan saya mati-matian untuk belajar fisika agar saya bisa lulus. dan di perkuliahan saya sama sekali tidak menyinggung-nyinggungnya lagi, berarti semua usaha ku untuk mengerti fisika itu sia-sia. itu jawabanku dulu, tapi setelah menonton film ini jawabanku berubah menjadi tidak.mengapa? karena, tidak ada yang sia-sia, semua pelajaran yang saya pelajari di SMA tidak ada yang sia-sia. karena inti dari sebuah SMA adalah proses untuk memahami semua pelajaran itu. semua butuh kerja keras untuk mengerti fisika, kimia, dan matematika. Sekolah mengajari kita untuk berani menghadapi soal yang kita tidak mengerti sekalipun, membuat kita bekerja keras untuk mengerti, untuk lulus di mata pelajaran tersebut. dan kerja keras itulah yang kita gunakan di kehidupan nyata kelak.
Tidak hanya SMA, kuliah pun seperti itu. terutama dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Kepintaran tidak menjadi patokan apakah kita lulus cepat atau tidak. apakah skripsi kita selesai atau tidak. karena smuanya butuh kerja keras, kesabaran dan keikhlasan. cepat memasukkan judul, cepat mengetik proposal, tidak berarti kita akan menjadi wisudawan yang tercepat. karena, masing-masing orang diuji samapai dimana batas kesabarannya. diperlukan kerja keras untuk menyelesaikan skripsi, tidak hanya dengan kepintaran, tetapi doa, kesabaran dan juga keikhlasan.
awalnya saya sangat depresi menghadapi kemelut skripsi ini, kesabaran hampir habis. tapi, saya tersadar bahwa semakin banyak dan besar cobaan yang ditimpakan kepada seseorang maka semakin kuat dan tegar orang itu. layaknya pembuatan sebuah pedang, semakin dipanasi dan dipukul maka pedang tersebut semakin tajam. berbeda dengan pedang yang tidak dipanasi dan sedikit dipukul, maka pedang tersebut akan tumpul. :)
nb : untuk mahasiswa fakultas hukum unhas bagian keperdataan yang tengah berusaha menyelesaikan proposal, penelitian dan skripsinya, Tuhan bersama kita.... semangat!!!!! :)
Kata orang belajar itu selain untuk melatih otak, hati, mental, dan sikap...,
BalasHapusSelalu semangat:)
:)
BalasHapusTuhan bersama mahasiswa semester akhir, bung!
BalasHapus